Setting Utama Pada Camera


 

Anda dapat mengukur kemajuan anda di bidang fotografi, dengan melihat kemampuan anda menguasai kamera. Pada awalnya terlihat sulit – bahkan cenderung jadi hambatan dari pada mendapat manfaatnya – tetapi ketika anda mampu menguasai kamera, maka proses kreatif akan sangat tertolong, dan diantara semua kontrol yang ada pada kamera anda, maka seting rana adalah yang paling penting dalam fotografi.

Setting Rana (shutter setting)

Seting rana, bukan hanya sekedar mengatur kecepatan (speed) waktu rana. Pada masa lalu, prioritas seting di tekankan pada kecepatan rana, supaya hasilnya tajam. Ketika hal tersebut terpenuhi, mulailah para profesional memikirkan tentang seting apertur agar dihasilkan bukaan diagprahma yang tepat. Nah sekarang jadi makin mudah ketika kamera dan lensa memiliki fitur stabilisasi gambar, jadi panduan tentang fotografi di daur ulang lagi supaya makin progresif.

Waktu ekposur (hubungannya dengan ketajaman dan blur)

Fungsi utama dari rana adalah untuk menentukan lamanya waktu eksposur. Ketika rana terbuka, terjadilah eksposur fotograpik, dimana sensor sedang mengumpulkan kekuatan sinar yang jatuh di permukaannya. Hasil yang direkam bukan sekedar cahaya yang jatuh, tapi juga hubungan spasial terhadap sensor. Hal ini berarti sensor tersebut merekam semua perubahan dari posisi subjek atau posisi kamera itu sendiri, dengan kata lain, sensor tersebut merekam intensitas cahaya dan gerakan.

Dengan waktu eksposur yang singkat, maka kesempatan terekamnya gerakan pada sensor semakin kecil. Jadi blur yang dihasilkan akibat gerakan terlihat sangat sedikit, jadi fotonya terlihat tajam. Jika kita gunakan waktu eksposur yang lebih lama, maka gerakan yang di lakukan oleh subjek maupun yang terjadi pada kamera, akan semakin terlihat. Sepersepuluh milimeter gerakan saja sudah cukup jelas terlihat pada foto, sehingga hasilnya jadi kurang tajam.

Eksposur singkat (versus Eksposur lama)

Ketika menggunakan waktu eksposur yang singkat, kelihatannya merupakan suatu solusi agar foto tampil tajam, tentu saja bisa, tapi kenyataannya, ada efek negatif terhadap foto yang dihasilkan. Eksposur yang terang membutuhkan apertur yang besar, atau menggunakan seting ISO yang lebih tinggi – adakalanya keduanya dipakai.

Kompensasi semacam ini, dapat menyebabkan hasil foto anda jadi kurang tajam; karena bukaan rana yang besar, menyebabkan sempitnya ruang tajam, sehingga membutuhkan kemampuan fokus yang presisi, dan tentu saja menurunkan kualitas foto. Penggunaan ISO yang tinggi meningkatkan timbulnya noise. Hal ini akan menurunkan ketajaman detil foto, belum lagi turunya kualitas warna.

Sebagai konsekuensinya, anda akan temukan fakta bahwa, jika anda tidak lagi menganggap waktu eksposur yang cepat akan memberikan gambar yang tajam, maka berarti anda sudah semakin mahir dibidang fotografi. Coba deh untuk motret dengan waktu eksposur yang lebih lama agar hasil fotonya blur, atau biarkan ada sedikit gerakan terekam pada foto anda.

Di jaman sekarang anda lebih beruntuk karena sekarang ada fitur stabilisasi gambar pada kamera, sehingga memberikan cara baru dalam merekam gerakan, karena memberikan kemampuan untuk memegang kamera secara stabil untuk eksposur yang lama, dan tetap bisa merekam gerakan pada foto. Ajaib ya..?

Ruang Tajam (Depth of Field)

Sulit untuk memahami bagaimana dimensi dibentuk oleh ruang tajam, jika mempelajari dari definisinya saja. Pada kenyataannya, ruang tajam bukan sekedar rentang ruang pada foto dimana sebuah objek akan tampil tajam. Ruang tajam juga menggambarkan kelenturan sebuah foto – ada rasa, ada dimensi ruang.

Ketajaman (dan ruang)

Pada pandangan normal, hanya 5% dari padangan kita yang bisa terlihat tajam – jadi Cuma sebagian kecil dari ruang pandang kita yang dapat dilihat secara detil. Namun demikian bagi kita, seluruh ruang terlihat tajam semua karena mata kita secara terus-menerus melakukan fokus ulang terhadap setiap detil yang kita lihat, menjelajah seluruh sudut untuk membentuk gambaran yang fokus.

Dulu sebelum kita memasuki era digital, tidak banyak foto yang tajam. Lantas ada sebuah sekolah fotografi yang mengajarkan memotret menggunakan f/64, sehingga dihasilkan ruang tajam yang sangat luas – biasanya cocok untuk memotret subjek yang jauh, atau landscape.

Hal ini sekarang berubah saat masuk kedalam era digital, dimana digunakan chip sensor yang kecil, yang membutuhkan lensa dengan fokal yang pendek, sehingga ruang tajam jadi sangat luas. Segala sesuatunya jadi terlihat tajam, dan pada awalnya memang bisa diterima, tapi berlahan-lahan mulai muncul reaksi negatif; yakni semua sudut gambar jadi tampak sama, dan sulit menemukan subjek yang menonjol.

Oberver (eye)

Kontrol utama terhadap ruang tajam adalah apertur, panjang fokal, dan perbesaran (seberapa jauh letak kamera dari subjek). Untuk mempersempit ruang tajam, maka apertur lensa harus dinaikan, lalu gunakan lensa fokal yang lebih panjang, atau mendekatlah kepada subjek. Namun demikian, kontrol ini tidak ada artinya dibandingkan dengan pendapat para pengamat mengenai ketajaman, dan bagaimana seberapa kritisnya sebuah foto diperhatikan. Persepsi tentang ruang tajam, juga akan dipengaruhi ukuran cetakan gambar itu sendiri. Semakin kecil apertur, semakin luas ruang tajamnya.

Quality (of blur)

Banyaknya bagian foto yang kurang tajam, disebabkan lebih pada kualitas ketidaktajaman atau blur.  Padahal baru di akhir abad ke duapuluh, dimana digunakan bentuk apertur diafragma yang aneh, pada kamera-kamera point-and-shot, dimana fotografer mulai belajar mengenai ketidak tajaman yang kurang menarik – dimana blurnya tidak sama, transisi kurang menyatu dan terkadang ada fringed. Kualitas ketidaktajaman disebut “bokeh”, dan bokeh yang bagus sekarang jadi ukuran kualitas foto sama halnya dengan ketajaman foto.

Hasilnya adalah kelenturan foto anda – bagaimana dapat dirasakan dan caranya foto tersebut membawa efek kedalaman ruang pada penikmatnya –  sangat tergantung pada kontrol ruang tajam. Sebaliknya, juga tergantung pada penggunaan sensor yang lebih besar, jika anda ingin menciptakan ruang tajam yang sempit, dan lensa kualitas tinggi untuk menghasilkan blur yang halus.

Rana (waktu)

Seting rana adalah salah satu kunci suksesnya sebuah foto, bukan Cuma bagaimana cara memilih kecepatan yang tepat agar gerakan terekam, tapi juga berapa lamanya gerakan tersebut harus direkam. Belum lagi kecepatan rana (lamanya waktu bukaan) juga mempengaruhi ukuran diagprahma (apertur), sehingga kita harus mampu memilih seting yang sesuai. Contoh: pada kecepatan rana 1/8 detik, cukup lama bagi kamera, sehingga perlu digunakan tripod, apalagi jika menggunakan panjang fokal di atas 70mm dimana ruang pandang juga makin sempit. Akibatnya suasana yang terekam menjadi lebih gelap karena kurangnya sinar yang  terekam pada permukaan sensor. Untuk itu perlu dilakukan kompensasi dengan memberikan eksposure 1 stop lebih rendah agar suasana sekitarnya tetap terekam dengan lebih cerah, namun tidak berlebihan. Sementara itu untuk menghasilkan ketajaman yang merata pada semua bidang foto, diperlukan apertur yang sempit yakni f/16 atau lebih, maka dampaknya jelas akan membuat cahaya yang masuk semakin sedikit. Itu sebabnya fotografer harus menaikkan seting ISO menjadi 400. Sayangnya tindakan ini berakibat pada timbulnya noise.  Nah untuk memastikan formula yang tepat agar foto yang dihasilkan cukup cerah, tajam dan jernih, perlu diambil beberapa kali pemotretan dengan berbagai kombinasi setting yang tepat agar hasil fotonya sesuai dengan apa yang di inginkan. Untuk itu lah kita harus memperhatikan setting utama kamera yakni:

Aperture, Speed dan ISO atau disingkat ASI biar mudah diingat lho…!


(Sumber : picsstudio.multiply.com)

Anda dapat mengukur kemajuan anda di bidang fotografi, dengAnda dapat mengukur kemajuan anda di bidang fotografi, dengan melihat kemampuan anda menguasai kamera. Pada awalnya terlihat sulit – bahkan cenderung jadi hambatan dari pada mendapat manfaatnya – tetapi ketika anda mampu menguasai kamera, maka proses kreatif akan sangat tertolong, dan diantara semua kontrol yang ada pada kamera anda, maka seting rana adalah yang paling penting dalam fotografi.

Setting Rana (shutter setting)

Seting rana, bukan hanya sekedar mengatur kecepatan (speed) waktu rana. Pada masa lalu, prioritas seting di tekankan pada kecepatan rana, supaya hasilnya tajam. Ketika hal tersebut terpenuhi, mulailah para profesional memikirkan tentang seting apertur agar dihasilkan bukaan diagprahma yang tepat. Nah sekarang jadi makin mudah ketika kamera dan lensa memiliki fitur stabilisasi gambar, jadi panduan tentang fotografi di daur ulang lagi supaya makin progresif.

Waktu ekposur (hubungannya dengan ketajaman dan blur)

Fungsi utama dari rana adalah untuk menentukan lamanya waktu eksposur. Ketika rana terbuka, terjadilah eksposur fotograpik, dimana sensor sedang mengumpulkan kekuatan sinar yang jatuh di permukaannya. Hasil yang direkam bukan sekedar cahaya yang jatuh, tapi juga hubungan spasial terhadap sensor. Hal ini berarti sensor tersebut merekam semua perubahan dari posisi subjek atau posisi kamera itu sendiri, dengan kata lain, sensor tersebut merekam intensitas cahaya dan gerakan.

Dengan waktu eksposur yang singkat, maka kesempatan terekamnya gerakan pada sensor semakin kecil. Jadi blur yang dihasilkan akibat gerakan terlihat sangat sedikit, jadi fotonya terlihat tajam. Jika kita gunakan waktu eksposur yang lebih lama, maka gerakan yang di lakukan oleh subjek maupun yang terjadi pada kamera, akan semakin terlihat. Sepersepuluh milimeter gerakan saja sudah cukup jelas terlihat pada foto, sehingga hasilnya jadi kurang tajam.

Eksposur singkat (versus Eksposur lama)

Ketika menggunakan waktu eksposur yang singkat, kelihatannya merupakan suatu solusi agar foto tampil tajam, tentu saja bisa, tapi kenyataannya, ada efek negatif terhadap foto yang dihasilkan. Eksposur yang terang membutuhkan apertur yang besar, atau menggunakan seting ISO yang lebih tinggi – adakalanya keduanya dipakai.

Kompensasi semacam ini, dapat menyebabkan hasil foto anda jadi kurang tajam; karena bukaan rana yang besar, menyebabkan sempitnya ruang tajam, sehingga membutuhkan kemampuan fokus yang presisi, dan tentu saja menurunkan kualitas foto. Penggunaan ISO yang tinggi meningkatkan timbulnya noise. Hal ini akan menurunkan ketajaman detil foto, belum lagi turunya kualitas warna.

Sebagai konsekuensinya, anda akan temukan fakta bahwa, jika anda tidak lagi menganggap waktu eksposur yang cepat akan memberikan gambar yang tajam, maka berarti anda sudah semakin mahir dibidang fotografi. Coba deh untuk motret dengan waktu eksposur yang lebih lama agar hasil fotonya blur, atau biarkan ada sedikit gerakan terekam pada foto anda.

Di jaman sekarang anda lebih beruntuk karena sekarang ada fitur stabilisasi gambar pada kamera, sehingga memberikan cara baru dalam merekam gerakan, karena memberikan kemampuan untuk memegang kamera secara stabil untuk eksposur yang lama, dan tetap bisa merekam gerakan pada foto. Ajaib ya..?

Ruang Tajam (Depth of Field)

Sulit untuk memahami bagaimana dimensi dibentuk oleh ruang tajam, jika mempelajari dari definisinya saja. Pada kenyataannya, ruang tajam bukan sekedar rentang ruang pada foto dimana sebuah objek akan tampil tajam. Ruang tajam juga menggambarkan kelenturan sebuah foto – ada rasa, ada dimensi ruang.

Ketajaman (dan ruang)

Pada pandangan normal, hanya 5% dari padangan kita yang bisa terlihat tajam – jadi Cuma sebagian kecil dari ruang pandang kita yang dapat dilihat secara detil. Namun demikian bagi kita, seluruh ruang terlihat tajam semua karena mata kita secara terus-menerus melakukan fokus ulang terhadap setiap detil yang kita lihat, menjelajah seluruh sudut untuk membentuk gambaran yang fokus.

Dulu sebelum kita memasuki era digital, tidak banyak foto yang tajam. Lantas ada sebuah sekolah fotografi yang mengajarkan memotret menggunakan f/64, sehingga dihasilkan ruang tajam yang sangat luas – biasanya cocok untuk memotret subjek yang jauh, atau landscape.

Hal ini sekarang berubah saat masuk kedalam era digital, dimana digunakan chip sensor yang kecil, yang membutuhkan lensa dengan fokal yang pendek, sehingga ruang tajam jadi sangat luas. Segala sesuatunya jadi terlihat tajam, dan pada awalnya memang bisa diterima, tapi berlahan-lahan mulai muncul reaksi negatif; yakni semua sudut gambar jadi tampak sama, dan sulit menemukan subjek yang menonjol.

Oberver (eye)

Kontrol utama terhadap ruang tajam adalah apertur, panjang fokal, dan perbesaran (seberapa jauh letak kamera dari subjek). Untuk mempersempit ruang tajam, maka apertur lensa harus dinaikan, lalu gunakan lensa fokal yang lebih panjang, atau mendekatlah kepada subjek. Namun demikian, kontrol ini tidak ada artinya dibandingkan dengan pendapat para pengamat mengenai ketajaman, dan bagaimana seberapa kritisnya sebuah foto diperhatikan. Persepsi tentang ruang tajam, juga akan dipengaruhi ukuran cetakan gambar itu sendiri. Semakin kecil apertur, semakin luas ruang tajamnya.

Quality (of blur)

Banyaknya bagian foto yang kurang tajam, disebabkan lebih pada kualitas ketidaktajaman atau blur.  Padahal baru di akhir abad ke duapuluh, dimana digunakan bentuk apertur diafragma yang aneh, pada kamera-kamera point-and-shot, dimana fotografer mulai belajar mengenai ketidak tajaman yang kurang menarik – dimana blurnya tidak sama, transisi kurang menyatu dan terkadang ada fringed. Kualitas ketidaktajaman disebut “bokeh”, dan bokeh yang bagus sekarang jadi ukuran kualitas foto sama halnya dengan ketajaman foto.

Hasilnya adalah kelenturan foto anda – bagaimana dapat dirasakan dan caranya foto tersebut membawa efek kedalaman ruang pada penikmatnya –  sangat tergantung pada kontrol ruang tajam. Sebaliknya, juga tergantung pada penggunaan sensor yang lebih besar, jika anda ingin menciptakan ruang tajam yang sempit, dan lensa kualitas tinggi untuk menghasilkan blur yang halus.

Rana (waktu)

Seting rana adalah salah satu kunci suksesnya sebuah foto, bukan Cuma bagaimana cara memilih kecepatan yang tepat agar gerakan terekam, tapi juga berapa lamanya gerakan tersebut harus direkam. Belum lagi kecepatan rana (lamanya waktu bukaan) juga mempengaruhi ukuran diagprahma (apertur), sehingga kita harus mampu memilih seting yang sesuai. Contoh: pada kecepatan rana 1/8 detik, cukup lama bagi kamera, sehingga perlu digunakan tripod, apalagi jika menggunakan panjang fokal di atas 70mm dimana ruang pandang juga makin sempit. Akibatnya suasana yang terekam menjadi lebih gelap karena kurangnya sinar yang  terekam pada permukaan sensor. Untuk itu perlu dilakukan kompensasi dengan memberikan eksposure 1 stop lebih rendah agar suasana sekitarnya tetap terekam dengan lebih cerah, namun tidak berlebihan. Sementara itu untuk menghasilkan ketajaman yang merata pada semua bidang foto, diperlukan apertur yang sempit yakni f/16 atau lebih, maka dampaknya jelas akan membuat cahaya yang masuk semakin sedikit. Itu sebabnya fotografer harus menaikkan seting ISO menjadi 400. Sayangnya tindakan ini berakibat pada timbulnya noise.  Nah untuk memastikan formula yang tepat agar foto yang dihasilkan cukup cerah, tajam dan jernih, perlu diambil beberapa kali pemotretan dengan berbagai kombinasi setting yang tepat agar hasil fotonya sesuai dengan apa yang di inginkan. Untuk itu lah kita harus memperhatikan setting utama kamera yakni:

Aperture, Speed dan ISO atau disingkat ASI biar mudah diingat lho…!


(Sumber : picsstudio.multiply.com)

an melihat kemampuan anda menguasai kamera. Pada awalnya terlihat sulit – bahkan cenderung jadi hambatan dari pada mendapat manfaatnya – tetapi ketika anda mampu menguasai kamera, maka proses kreatif akan sangat tertolong, dan diantara semua kontrol yang ada pada kamera anda, maka seting rana adalah yang paling penting dalam fotografi.

Setting Rana (shutter setting)

Seting rana, bukan hanya sekedar mengatur kecepatan (speed) waktu rana. Pada masa lalu, prioritas seting di tekankan pada kecepatan rana, supaya hasilnya tajam. Ketika hal tersebut terpenuhi, mulailah para profesional memikirkan tentang seting apertur agar dihasilkan bukaan diagprahma yang tepat. Nah sekarang jadi makin mudah ketika kamera dan lensa memiliki fitur stabilisasi gambar, jadi panduan tentang fotografi di daur ulang lagi supaya makin progresif.

Waktu ekposur (hubungannya dengan ketajaman dan blur)

Fungsi utama dari rana adalah untuk menentukan lamanya waktu eksposur. Ketika rana terbuka, terjadilah eksposur fotograpik, dimana sensor sedang mengumpulkan kekuatan sinar yang jatuh di permukaannya. Hasil yang direkam bukan sekedar cahaya yang jatuh, tapi juga hubungan spasial terhadap sensor. Hal ini berarti sensor tersebut merekam semua perubahan dari posisi subjek atau posisi kamera itu sendiri, dengan kata lain, sensor tersebut merekam intensitas cahaya dan gerakan.

Dengan waktu eksposur yang singkat, maka kesempatan terekamnya gerakan pada sensor semakin kecil. Jadi blur yang dihasilkan akibat gerakan terlihat sangat sedikit, jadi fotonya terlihat tajam. Jika kita gunakan waktu eksposur yang lebih lama, maka gerakan yang di lakukan oleh subjek maupun yang terjadi pada kamera, akan semakin terlihat. Sepersepuluh milimeter gerakan saja sudah cukup jelas terlihat pada foto, sehingga hasilnya jadi kurang tajam.

Eksposur singkat (versus Eksposur lama)

Ketika menggunakan waktu eksposur yang singkat, kelihatannya merupakan suatu solusi agar foto tampil tajam, tentu saja bisa, tapi kenyataannya, ada efek negatif terhadap foto yang dihasilkan. Eksposur yang terang membutuhkan apertur yang besar, atau menggunakan seting ISO yang lebih tinggi – adakalanya keduanya dipakai.

Kompensasi semacam ini, dapat menyebabkan hasil foto anda jadi kurang tajam; karena bukaan rana yang besar, menyebabkan sempitnya ruang tajam, sehingga membutuhkan kemampuan fokus yang presisi, dan tentu saja menurunkan kualitas foto. Penggunaan ISO yang tinggi meningkatkan timbulnya noise. Hal ini akan menurunkan ketajaman detil foto, belum lagi turunya kualitas warna.

Sebagai konsekuensinya, anda akan temukan fakta bahwa, jika anda tidak lagi menganggap waktu eksposur yang cepat akan memberikan gambar yang tajam, maka berarti anda sudah semakin mahir dibidang fotografi. Coba deh untuk motret dengan waktu eksposur yang lebih lama agar hasil fotonya blur, atau biarkan ada sedikit gerakan terekam pada foto anda.

Di jaman sekarang anda lebih beruntuk karena sekarang ada fitur stabilisasi gambar pada kamera, sehingga memberikan cara baru dalam merekam gerakan, karena memberikan kemampuan untuk memegang kamera secara stabil untuk eksposur yang lama, dan tetap bisa merekam gerakan pada foto. Ajaib ya..?

Ruang Tajam (Depth of Field)

Sulit untuk memahami bagaimana dimensi dibentuk oleh ruang tajam, jika mempelajari dari definisinya saja. Pada kenyataannya, ruang tajam bukan sekedar rentang ruang pada foto dimana sebuah objek akan tampil tajam. Ruang tajam juga menggambarkan kelenturan sebuah foto – ada rasa, ada dimensi ruang.

Ketajaman (dan ruang)

Pada pandangan normal, hanya 5% dari padangan kita yang bisa terlihat tajam – jadi Cuma sebagian kecil dari ruang pandang kita yang dapat dilihat secara detil. Namun demikian bagi kita, seluruh ruang terlihat tajam semua karena mata kita secara terus-menerus melakukan fokus ulang terhadap setiap detil yang kita lihat, menjelajah seluruh sudut untuk membentuk gambaran yang fokus.

Dulu sebelum kita memasuki era digital, tidak banyak foto yang tajam. Lantas ada sebuah sekolah fotografi yang mengajarkan memotret menggunakan f/64, sehingga dihasilkan ruang tajam yang sangat luas – biasanya cocok untuk memotret subjek yang jauh, atau landscape.

Hal ini sekarang berubah saat masuk kedalam era digital, dimana digunakan chip sensor yang kecil, yang membutuhkan lensa dengan fokal yang pendek, sehingga ruang tajam jadi sangat luas. Segala sesuatunya jadi terlihat tajam, dan pada awalnya memang bisa diterima, tapi berlahan-lahan mulai muncul reaksi negatif; yakni semua sudut gambar jadi tampak sama, dan sulit menemukan subjek yang menonjol.

Oberver (eye)

Kontrol utama terhadap ruang tajam adalah apertur, panjang fokal, dan perbesaran (seberapa jauh letak kamera dari subjek). Untuk mempersempit ruang tajam, maka apertur lensa harus dinaikan, lalu gunakan lensa fokal yang lebih panjang, atau mendekatlah kepada subjek. Namun demikian, kontrol ini tidak ada artinya dibandingkan dengan pendapat para pengamat mengenai ketajaman, dan bagaimana seberapa kritisnya sebuah foto diperhatikan. Persepsi tentang ruang tajam, juga akan dipengaruhi ukuran cetakan gambar itu sendiri. Semakin kecil apertur, semakin luas ruang tajamnya.

Quality (of blur)

Banyaknya bagian foto yang kurang tajam, disebabkan lebih pada kualitas ketidaktajaman atau blur.  Padahal baru di akhir abad ke duapuluh, dimana digunakan bentuk apertur diafragma yang aneh, pada kamera-kamera point-and-shot, dimana fotografer mulai belajar mengenai ketidak tajaman yang kurang menarik – dimana blurnya tidak sama, transisi kurang menyatu dan terkadang ada fringed. Kualitas ketidaktajaman disebut “bokeh”, dan bokeh yang bagus sekarang jadi ukuran kualitas foto sama halnya dengan ketajaman foto.

Hasilnya adalah kelenturan foto anda – bagaimana dapat dirasakan dan caranya foto tersebut membawa efek kedalaman ruang pada penikmatnya –  sangat tergantung pada kontrol ruang tajam. Sebaliknya, juga tergantung pada penggunaan sensor yang lebih besar, jika anda ingin menciptakan ruang tajam yang sempit, dan lensa kualitas tinggi untuk menghasilkan blur yang halus.

Rana (waktu)

Seting rana adalah salah satu kunci suksesnya sebuah foto, bukan Cuma bagaimana cara memilih kecepatan yang tepat agar gerakan terekam, tapi juga berapa lamanya gerakan tersebut harus direkam. Belum lagi kecepatan rana (lamanya waktu bukaan) juga mempengaruhi ukuran diagprahma (apertur), sehingga kita harus mampu memilih seting yang sesuai. Contoh: pada kecepatan rana 1/8 detik, cukup lama bagi kamera, sehingga perlu digunakan tripod, apalagi jika menggunakan panjang fokal di atas 70mm dimana ruang pandang juga makin sempit. Akibatnya suasana yang terekam menjadi lebih gelap karena kurangnya sinar yang  terekam pada permukaan sensor. Untuk itu perlu dilakukan kompensasi dengan memberikan eksposure 1 stop lebih rendah agar suasana sekitarnya tetap terekam dengan lebih cerah, namun tidak berlebihan. Sementara itu untuk menghasilkan ketajaman yang merata pada semua bidang foto, diperlukan apertur yang sempit yakni f/16 atau lebih, maka dampaknya jelas akan membuat cahaya yang masuk semakin sedikit. Itu sebabnya fotografer harus menaikkan seting ISO menjadi 400. Sayangnya tindakan ini berakibat pada timbulnya noise.  Nah untuk memastikan formula yang tepat agar foto yang dihasilkan cukup cerah, tajam dan jernih, perlu diambil beberapa kali pemotretan dengan berbagai kombinasi setting yang tepat agar hasil fotonya sesuai dengan apa yang di inginkan. Untuk itu lah kita harus memperhatikan setting utama kamera yakni:

Aperture, Speed dan ISO atau disingkat ASI biar mudah diingat lho…!


(Sumber : picsstudio.multiply.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: